Manusia yang bijaksana mengambil sebuah daun kering
yang telah mati dan tersenyum dengan sedih.
“Sungguh indah ketika engkau masih bersatu dengan batangmu.
Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna
hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah
menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah.
Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai
pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir
yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan
bagi tanah.”
Dia tertawa dan menangis, tetapi bukan dari dalam dirinya.
Manusia yang terobsesi dengan kebijaksanaan tertawa kerana
penjelasannya sendiri.
Dia berkata, “Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan,
aku mencari~Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya
doktor yang dapat menyembuhkan kegilaanku.
Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini.
Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku.
Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku.
Berikanlah aku ubat rahmat, cinta dan kebijaksanaan~Mu
dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku.
Aku adalah budak~Mu di dunia ini.”
Hatinya terbuka, dan dia berserah diri kepada Tuhan.
[ Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen ]







