Rasulullah s.a.w. bersabda :

Sesungguhnya para ulama itu merupakan pewaris para Nabi, dan Nabi itu tidak meninggalkan dinar atau dirham sebaliknya para Nabi itu meninggalkan kepada kita akan ilmu. (Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi)

Imam Asyma'i berkata :

Seawal-awal ilmu adalah diam, keduanya mendengar dengan teliti, ketiga menghafal, keempat beramal dengannya dan kelima menyampaikan ilmu tersebut.

Imam Al-Ghazali berpesan :

Sesiapa yang memiliki ilmu lalu memanfaatkannya dan memberi manfaat kepada orang lain samalah seperti mentari yang menerangi dirinya dan orang lain sedangkan ia terus bersinar.

Sayyidina Ali r.a. berkata :

Janganlah dikau tangguhkan untuk melakukan sesuatu kebaikan hingga keesokan harinya, kerana mungkin keesokan hari yang mendatang kamu telah mati.

Sayyidina Abbas menasihati :

Sebaik-baik perkara kebajikan adalah yang disegerakan untuk melaksanakannya.

Saturday, March 12, 2011

Iman dan amal



بسم الله الرحمن الرحيم


Perumpamaan iman dan amal soleh adalah seperti rumah dengan
mawar, melati, dan berbagai bunga wangi di dalamnya.


Rumah itu nyaman selama peredaran udaranya bagus dan
bunga-bunganya segar serta menebar wangi. Jika udara
pengap dan berhawa panas, bunga pun menjadi layu,
kesegarannya hilang, dan harumnya lenyap.


Demikian pula halnya dengan iman yang terdapat dalam hati.
Ia segar dan bersih sesuai dengan kebersihan hati.


Jika gejolak syahwat, hembusan hawa nafsu, panasnya ketamakan,
sikap sombong dan cinta pangkat ada padanya,
lalu semua itu menyelimuti hati,
maka pohon iman menjadi layu dan kehilangan kesegaran."


[Al-Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]



Thursday, March 10, 2011

Jiwa amal ialah tulus ikhlas



Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan,
sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam,
maka tidak sempurna hasil buahnya.

Tiada sesuatu yang lebih bahaya bagi seseorang yang beramal,
daripada menginginkan kedudukan dan terkenal
di tengah-tengah masyarakat umum. Dan ini termasuk
keinginan hawa nafsu yang utama

Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
"Siapa yang merendah diri maka Allah akan
memuliakannya, dan siapa yang sombong (besar diri),
Allah akan menghinanya.

Ibrahim Adham r.a. berkata:
Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah,
siapa yang ingin masyhur (terkenal)

Ayyub Assakhtiyaany r.a. berkata:
Demi Allah tiada seorang hamba yang benar-benar
ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang,
gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.

[Al-Hikam ~ Ibnu Athaillah Askandary]



Monday, March 7, 2011

Kejayaan



"Barangsiapa cemerlang pada permulaan sesuatu yang ia kerjakan,
yakni segala waktunya tidak terbuang,
tetapi dipenuhinya dengan ibadat dan taat,
serta semua perhatiannya diarahkan untuk itu,
maka hasil daripadanya ia akan mendapat
kecemerlangan pula pada penghabisannya.
Ia akan mendapat limpahan Nur,
ilmu ladunni (ilmu secara langsung) dari Allah SWT.

Segala sesuatu yang menghambat antara dia
dengan Allah akan hilang sehingga timbullah hubungan yang suci,
yang penuh dengan rasa cinta dan asyik antara
dia sebagai hamba Allah dengan Allah SWT.
Tetapi apabila ia melaksanakan amal
ibadatnya dengan tidak serius,
di mana seluruh perhatiannya tidak
tertumpah pada apa yang dikerjakannya,
maka tujuan terakhir seperti tersebut
tidak akan diperolehinya bahkan pula
jauh dari apa yang dicita-citakannya.
Walaupun berhasil, maka hasilnya tidak akan sempurna.
Dengan kata lain, tidak mendapat "keuntungan",
tetapi untungnya hanya sekadar balik modal."

[Syeikhul Islam Abdullah Syarqawy]



Saturday, February 19, 2011

Manis dalam ketaatan



Seringkali dirimu diminta untuk taat

tetapi hatimu senantiasa merasa berat

kerana memang tidak mencintai ketaatan.

Kerana itu, pertama kali harus

kamu lakukan adalah mengubati kalbumu.

Apabila telah sembuh, nikmat cinta pun

akan datang dengan sendirinya.

Manisnya maksiat yang dulu dirasakan

akan ditemukan pada ketaatan.


[Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari r.a.]


Tuesday, February 15, 2011

Redha dan pasrah



Bila Allah membuat alam dan makhluk serba memusingkanmu
sungguh itu suatu panggilan agar kau cari
ketenangan pada kebersamaan dengan~Nya.


Bila Dia memberi musibah
Dia ingin engkau kembali kepada~Nya
dengan pasrah dan berserah.


Bila Dia memberi ujian
Dia ingin engkau mencari~Nya
untuk meminta pertolongan.


Bila Dia memberimu kesempitan,
Dia ingin engkau kembali kepada~Nya
untuk mencari kelapangan


[Imam Ibnu Athaillah Askandary]